Pelatihan Komputer & Internet

10 November, 2009

Group Dhungka an Nihayah Menara


Menara adalah kampung yang berbudaya, walaupun letaknya berada di bawah gunung, namun tidak kalah maju dengan daerah lain yang berada di sekitar sangkapura. Kampung-kampung lain menyebut orang menara dengan nama kalompek atau orang gunung yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tertinggal, tak berbudaya, tidak berpendidikan, jauh dari peradaban dll. tapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpendidikan, apalagi masalah kebudayaan, mereka adalah orang-orang yang sangat unggul dan kaya dengan budaya, ada beberapa kesenian masyarakat menara yang masih bertahan dan tetap unggul sampai sekarang, diantaranya adalah hadrah, pencak silat, zamrah, dll.

Kesenian Hadrah Menara adalah kesenian yang sudah menjadi tradisi turun menurun. Kesenian tersebut adalah satu-satunya kesenian yang masih bertahan sampai sekarang dan selalu menjadi acara hiburan dalam setiap acara pernikahan. Bahkan Hadrah Menara di Malaysia selalu di undang oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Malaysia dan Kerajaan Malaysia.

Sementara pencak silat juga merupakan salah satu kesenian di Menara yang masih tetap bertahan. Walaupun pendekarnya sudah tua, namun ilmunya banyak diturunkan kepada anak-anak muda, sehingga banyak pendekar-pendekar muda yang bermunculan. Kesenian ini sama dengan hadrah selalu ditampilkan sebagai hiburan dalam acara pernikahan atau dalam acara-acara lainnya.

sedangkan zamrah sebuah kesenian yang biasa dilakukan oleh kaum hawa juga sampai saat ini masih banyak penerusnya. walaupun kini sudah jarang ditampilkan dalam setiap acara pernikahan seperti zaman dahulu namun masih ditampilkan dalam acara-acara tertentu yang sekiranya tidak menimbulkan fitnah.


Ada lagi kesenian masyarakat menara yaitu dhungka. Pada zaman dahulu dhungka adalah sebuah kesenian yang biasa dimainkan pada saat-saat mendekati hari pernikahan, sehingga jika terdengar suara orang memainkan dhungka maka berarti di rumah itu akan ada acara pernikahan. namun sayang kesenian ini susah untuk diwariskan karena semakin berkembangnya zaman, saat ini klo menumbuk padi sudah tidak memakai ronjhengan lagi, tapi sudah memakai mesin, sehingga ronjhengan-ronjhengan itu sudah mulai rapuh dan hilang ditelan masa.

Dengan banyaknya kesenian yang dimiliki masyarakat menara maka tidak heran kalau mereka selalu menang dan juara dalam berbagai macam perlombaan seperti PORSEMA, perlombaan ibu-ibu PKK, atau perlombaan fatayat.

Video ini adalah kesenian dhungka hasil kreasi remaja-remaja puteri Menara yang ditampilkan dalam acara harlah IPNU-IPPNU cabang Bawean di alun-alun Sangkapura pada tanggal 5-7 april 2008. penampilan ini memperagakan bentuk pernikahan masyarakat menara, sehingga para hadirin banyak yang kagum dan memuji dengan penampilannya yang begitu indah dan mengesankan, bahkan ada yang tidak percaya kalau dua vokalis yang melantunkan lagu dengan suara merdunya itu bersaudara, sehingga karena mereka tidak puas hati, mereka menemui ibu kedua vokalis itu untuk memastikan kalau mereka adalah anaknya....


0 komentar:

Maulud Pemuda Menara Malaysia