Pelatihan Komputer & Internet

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

04 Januari, 2011

Mereka Telah Menanam

Disebutkan dalam suatu kisah bahwa ada seorang kakek tua renta, ia pergi ke kebun membawa cangkul dan tunas kelapa. Dalam usianya yang sudah renta dan fisiknya yang sudah lemah, sang kakek mengayunkan cangkulnya menggali lubang lalu ia menanam tunas kelapa yang ia bawa. Seseorang yang kebetulan lewat di situ melihat sang kakek menanam pohon kelapa terheran-heran, ia pikir buat apa kakek ini menanam pohon kelapa? Berapa tahun pohon kelapa itu akan berbuah, dan berapa lama lagi kakek tua ini akan hidup di dunia? Sempatkah ia nanti menikmati buah pohon kelapa yang ia tanam?

Untuk mengobati rasa penasarannya, orang tersebut menghampiri sang kakek dan bertanya: kakek kan sudah tua, sementara pohon kelapa ini baru berbuah beberapa tahun nanti, untuk apa kakek menanamnya? Dengan tenang sang kakek menjawab: “orang tua kami telah menanam, dan kami telah menikmati hasilnya, maka kami sekarang menanam untuk dinikmati buahnya oleh generasi setelah kami”.

Kata-kata yang sangat bijak dari sang kakek ini perlu kita cermati, perlu kita hayati dan perlu kita renungi. Rupanya sang kakek betul-betul mengerti bahwa para pendahulunya telah banyak berbuat, mereka telah berjuang, mereka telah bekerja keras yang tentunya para pendahulunya itu berbuat dan bekerja bukan hanya untuk dirinya akan tetapi untuk bangsa dan negaranya, untuk generasinya dan generasi setelahnya.

Sang kakek juga sangat paham bahwa selama ini ia telah menikmati hasil jerih payah para pendahulunya, ia sudah banyak makan jasa orang-rang sebelumnya, ia paham betul bahwa tidak langsung tumbuh dewasa, ia mengerti bahwa apa yang ia capai tidak lepas dari jasa-jasa orang yang mendidiknya. Ia tahu bahwa ia adalah salah satu mata rantai sejarah generasi bangsa, ia sadar bahwa ia adalah salah satu pemegang tongkat estafet yang harus ia serahkan kepada generasi setelahnya.

Berdasarkan kesadaran itu, ia merasa wajib untuk berterima kasih kepada pendahulunya, ia harus membalas jasa-jasa orang sebelumnya, ia harus berbuat sebagaimana yang telah diperbuat oleh generasi sebelumnya. Ya, sebagai rasa terima kasih dan mengenang jasa-jasa orang sebelumnya yang telah ia nikmati, maka ia tergerak untuk bekerja, berusaha, dan berbuat untuk generasi setelahnya, ia merasa punya kewajiban untuk menanam jasa kepada anak cucunya. Ia tahu bahwa seseorang bukan hanya menerima, akan tetapi juga harus memberi, ia mengerti bahwa orang bukan hanya berbuat untuk dirinya sendiri, akan tetapi juga harus berbuat untuk orang lain. Itulah sebabnya di usia yang senja sang kakek menanam pohon kelapa.

Tak terkecuali kita. Kita adalah salah satu anak bangsa, kita adalah salah satu mata rantai sejarah, sama persis dengan sang kakek, kita telah diasuh oleh orang tua kita, kita telah didik oleh para pendidik kita, kita telah banyak menikmati hasil jerih payah para pendahulu kita. Ya, orang tua kita, para pemimpin kita, kiyai kita, pak guru kita telah banyak menanamkan jasa-jasanya kepada kita.

Kita tumbuh dewasa berkat susah payah orang tua kita yang telah mengasuh kita, kita bisa mengaji karena jasa kiai yang mengajari kita alif ba’ ta. Kita bisa jadi sarjana tak lepas dari jasa pak guru yang mengajari kita a, bi, ci, di. Mereka telah berbuat, mereka telah berjuang, dan mereka telah menanam, yang hasilnya telah kita nikmati dan kita rasakan.

Tinggal kita sekarang, apa yang telah kita perbuat untuk bangsa kita?, apa yang bisa kita lakukan untuk membalas jasa-jasa para pendahulu kita?, apa yang bisa kita usahakan untuk meneruskan tongkat estafet perjuangan para pendahulu kita?, apa yang harus kita upayakan agar kita menjadi salah satu mata rantai sejarah bangsa kita? Apa yang bisa kita tanam, untuk dinikmati oleh generasi setelah kita?

Kita perlu belajar dari sang kakek, kita perlu tahu bahwa kita perlu berbuat untuk orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri, kita perlu mengerti bahwa kita harus turun ke lapangan, kita harus ikut mengambil peran, kita harus ikut berkiprah dalam kancah kehidupan masyarakat, kita harus ikut terjun ke medan laga. Kerena orang hanya dikenang dengan jasanya, orang akan diingat karena kebaikannya, dan orang akan disebut dengan amal perbuatannya.

Kalau tidak, kafilah akan tetap berjalan, sejarah akan tetap berlalu, dan bumi akan tetap berputar. Dan kita akan ketinggalan, kita akan hanyut ditelan masa, dan kita akan dilupakan. Kita hanya ada dua pilihan, akan menjadi pemain atau menjadi penonton, akan dikenang atau akan dilupakan.

25 Desember, 2010

PERJALANAN SPIRITUAL PEMBANTU PENDETA MENJADI SEORANG MUSLIM

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--"Saya tidak bisa menemukan jawaban-jawabannya di Alkitab. Begitu saya sadar bahwa Trinitas cuma sebuah mitos dan bahwa Tuhan cukup kuat untuk menyelamatkan seseorang tanpa membutuhkan bantuan dari seorang anak atau siapapun, atau apapun.

Semuanya kemudian berubah. Keyakinan saya selama ini terhadap ajaran Kristen runtuh. Saya tidak lagi mempercayai ajaran Kristen atau menjadi seorang Kristiani."

Jalan untuk meraih cita-citanya sebagai pendeta atau pemimpin misionaris terbuka lebar, namun jalan yang terbentang itu justru membawanya untuk mengenal Islam. Sehingga ia akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim dan melepaskan semua ambisinya, meski pada saat itu ia sudah menjadi pembantu pendeta.

Dia adalah Abdullah DeLancey, seorang warga Kanada yang menceritakan perjalanannya menjadi seorang Muslim. "Dulu, saya adalah penganut Kristen Protestan. Keluarga saya membesarkan saya dalam ajaran Gereja Pantekosta, hingga saya dewasa dan saya memilih menjadi seorang jamaah Gereja Baptist yang fundamental," kata DeLancey mengawali ceritanya.

Menurutnya, sebagai seorang Kristen yang taat, kala itu dia kerap terlibat dengan berbagai aktivitas gereja seperti memberikan khotbah pada sekolah minggu dan kegiatan-kegiatan lainnya. "Saya akhirnya terpilih sebagai pembantu pendeta. Saya benar-benar ingin mengabdi lebih banyak lagi pada Tuhan dan memutuskan untuk mengejar karir sampai menjadi seorang Pendeta," tutur DeLancey yang kini bekerja memberikan pelayanan pada para pasien di sebuah rumah sakit lokal.

Keinginannya, sebenarnya menjadi seorang pendeta atau menjadi seorang misionaris. Namun ia berpikir, jika menjadi seorang Pendeta maka akan memperkuat komitmen hidupnya dan keluarganya pada gereja secara penuh. DeLancey pun mendapatkan beasiswa untuk mengambil gelar sarjana di bidang agama.

"Sebelum mengikuti kuliah di Bible College, saya berpikir untuk lebih menelaah ajaran-ajaran Kristen dan saya mulai menanyakan sejumlah pertanyaan-pertanyaan serius tentang ajaran agama saya. Saya mempertanyakan masalah Trinitas, mengapa Tuhan membutuhkan seorang anak dan mengapa Yesus harus dikorbankan untuk menebus dosa-dosa manusia seperti yang disebutkan dalam Alkitab," ujar DeLancey.

Hal lainnya yang menjadi tanda tanya bagi DeLancey, bagaimana bisa orang-orang yang disebutkan dalam "Kitab Perjanjian Lama" bisa "selamat" dan masuk surga padahal Yesus belum lahir. "Saya dengan serius merenungkan semua ajaran Kristen, yang selama ini saya abaikan," sambung DeLancey.

Ia mengakui tidak mendapatkan jawaban yang masuk akal dan cukup beralasan atas semua pertanyaan-pertanyaan yang menjadi dasar ajaran Kristen itu. "Lantas, untuk apa Tuhan memberikan kita akal yang luar biasa jika kemudian kita tidak boleh menggunakannya. Itulah yang perintahkan agama Kristen, agama Kristen meminta kita untuk tidak menggunakan akal ketika menyatakan bahwa Anda harus punya keyakinan. Sebuah keyakinan yang buta," kata DeLancey, mengenang pengalamannya di masa lalu.

Sejak itu, DeLancey sadar bahwa selama ini ia sudah menelan ajaran Kristen dengan secara buta dan tidak pernah mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya membuatnya bingung. "Saya sama sekali tidak pernah menyadarinya," ujar DeLancey.

"Saya tidak bisa menemukan jawaban-jawabannya di Alkitab. Begitu saya sadar bahwa Trinitas cuma sebuah mitos dan bahwa Tuhan cukup kuat untuk "menyelamatkan" seseorang tanpa membutuhkan bantuan dari seorang anak atau siapapun, atau apapun. Semuanya kemudian berubah. Keyakinan saya selama ini terhadap ajaran Kristen runtuh. Saya tidak lagi mempercayai ajaran Kristen atau menjadi seorang Kristiani."

"Saya meninggalkan gereja untuk selamanya dan istri saya mengikuti langkah saya, karena ia juga mengalami hal yang sama dalam menerima ajaran-ajaran Kristen. Inilah yang akan menjadi awal perjalanan spritual saya, ketika itu saya tanpa agama tapi tetap percaya pada Tuhan," papar DeLancey.

Hidayah Itupun Datang

DeLancey mengakui, saat-saat itu menjadi saat-saat yang sulit bagi dirinya dan keluarganya yang selama ini hanya tahu ajaran Kristen. Namun ia terus mencari kebenaran dan mulai mempelajari berbagai agama. DeLancey tetap menemui kejanggalan-kejanggalan dalam agama-agama yang dipelajarinya, sampai ia mendengar tentang agama Islam.

"Islam !!! Apalagi itu? Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah mengenal seorang Muslim dan tidak pernah mendengar Islam, bahkan pembicaraan tentang Islam sebagai salah satu agama di tempat saya tinggal di Kanada kecuali cerita-cerita buruk tentang Islam. Ketika itu, saya sama sekali tidak mempertimbangkan Islam," tutur DeLancey.

Tapi kemudian, DeLancey mulai membaca-baca informasi tentang Islam dan mulai membaca isi Alquran. Isi Alquran itulah yang mengubah kehidupannya sehingga ia tertarik untuk membaca segala sesuatu tentang Islam. Beruntung, DeLancey menemukan sebuah masjid yang letaknya sekitar 100 mil dari kota tempat tinggalnya.

"Saya lalu membawa keluarga saya ke masjid ini. Dalam perjalanan, saya merasa gugup tapi juga dipenuhi semangat dan saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya akan diizinkan masuk ke masjid karena saya bukan seorang Arab atau Muslim," kisahnya.

Setelah sampai di masjid, saya pun merasa bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia dan keluarganya disambut hangat oleh seorang Imam dan sejumlah Muslim di masjid itu. "Mereka sangat baik. Tidak seburuk berita-berita tentang Muslim," aku DeLancey.

Di masjid itu, DeLancey diberi buku yang ditulis oleh Ahmad Deedat dan ia diyakinkan bisa menjadi seorang Muslim. DeLancey membaca semua material-material tentang Islam dan sangat menghargai pemberian itu, karena di perpustakaan di tempatnya tinggal hanya ada empat buku tentang Islam.

"Setelah mempelajari buku-buku itu, saya sangat syok. Bagaimana bisa saya menjadi seorang Kristiani begitu lama dan tidak pernah mendengar ada kebenaran? Saya akhirnya meyakini Islam dan ingin masuk Islam," kisah DeLancey.

Ia kemudian mengontak komunitas Muslim di kotanya dan pada 24 Maret 2006 saya pergi ke masjid dan mengucapkan syahadah beberapa saat sebelum pelaksanaan salat Jumat, dengan disaksikan komunitas Muslim di kotanya.

"Saya mengucapkan La illaha ill Allah, Muhammadur Rasul Allah, tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Saya pun menjadi seorang Muslim. Hari itu adalah hari paling indah dalam hidup saya. Saya mencintai Islam dan merasakan kedamaian sekarang," tukas DeLancey mengingat kembali saat-saat ia menjadi seorang Mualaf.

DeLancey mengakui, ia dan keluarganya menghadapi masa-masa sulit setelah memutuskan memeluk Islam terutama dari teman-temannya yang Kristen dan dari kedua orangtuanya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak dan teman-temannya yang Kristen tidak mau lagi bicara dengannya. DeLancey dijauhi bahkan ditertawai.

"Saya senang menjadi seorang Muslim, tak masalah jika teman-teman saya sesama orang Kanada memandang saya aneh karena memilih menjadi seorang Muslim. Karena saya sendiri yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan saya pada Allah setelah saya mati."

"Allah memberi saya kekuatan dan Allah yang Maha Besar menolong saya untuk melewati masa-masa sulit setelah saya masuk agama Islam. Saya punya banyak sekali saudara seiman sekarang," tandas DeLancey.

Setelah masuk Islam, DeLancey mengubah nama depannya dan jadilah namanya sekarang Abdullah DeLancey. menjadi orang pertama dan satu-satunya pembimbing rohani Islam yang dibolehkan bekerja di rumah sakit di kotanya. Ia juga mengelola sebuah situs Islam Muslimforlife.com yang dididirikannya.

"Saya seorang Muslim dan saya sangat bahagia menjadi seorang Muslim. Rasa syukur saya panjatkan pada Allah swt," tukas DeLancey mengakhiri kisah perjalanannya dari seorang pembantu pastor menjadi seorang Muslim.

07 Maret, 2010

Lapan: Badai Matahari Terjadi Antara 2012-2015

Film fiksi ilmiah '2012' yang menceritakan tentang terjadinya badai matahari (flare) bukan isapan jempol belaka. Flare diperkirakan akan terjadi antara tahun 2012-2015. Namun, tak serta merta hal itu melenyapkan peradaban dunia.

"Lapan memperkirakan puncak aktivitas matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015. Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan tinggi dan terjadi badai matahari," ujar Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (4/3/2010).

Flare tersebut, imbuhnya, merupakan salah satu aktivitas matahari selain medan magnet, bintik matahari, lontaran massa korona, angin surya dan partikel energetik. Ledakan-ledakan matahari itu, bisa sampai ke bumi. Namun, flare yang diperkirakan akan terjadi itu tak akan langsung membuat dunia hancur.

"Masyarakat banyak yang menghubungkan antara badai matahari dengan isu kiamat 2012 dari ramalan Suku Maya. Ternyata dari hasil pengamatan Lapan, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban dunia," imbuhnya.

Efek badai tersebut, lanjut dia, yang paling utama berdampak pada teknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio. Satelit dapat kehilangan kendali dan komunikasi radio akan terputus.

"Efek lainnya, aktivitas matahari berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika aktivitas matahari meningkat maka matahari akan memanas. Akibatnya suhu bumi meningkat dan iklim akan berubah," jelas Elly.

Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim. Dampak ekstremnya, bisa menyebabkan kemarau panjang. Namun hal ini masih dikaji oleh para peneliti.

Lapan pun berniat mensosialisasikan dampak aktivitas matahari ini ke masyarakat. Sosialisasi Fenomena Cuaca Antariksa 2012-2015 pun akan digelar di Gedung Pasca Sarjana lantai 3, Universitas Udayana, Jl Jenderal Sudirman, Denpasar, Bali pada 9 Maret 2010 pukul 11.00 Wita.


Sumber : http://id.news.yahoo.com/dtik/20100304/tpl-lapan-badai-matahari-terjadi-antara-b28636a.html

29 Januari, 2010

List of the keyboard shortcuts that are available in Windows XP

General keyboard shortcuts

  • SHIFT+DELETE (Delete the selected item permanently without placing the item in the Recycle Bin)
  • F2 key (Rename the selected item)
  • F3 key (Search for a file or a folder)
  • ALT+ENTER (View the properties for the selected item or object)
  • ALT+F4 (Close the active item, or quit the active program)
  • ALT+TAB (Switch between the open items)
  • ALT+ESC (Cycle through items in the order that they had been opened)
  • F6 key (Cycle through the screen elements in a window or on the desktop)
  • F4 key (Display the Address bar list in My Computer or Windows Explorer)
  • SHIFT+F10 (Display the shortcut menu for the selected item)
  • ALT+SPACEBAR (Display the System menu for the active window)
  • CTRL+ESC (Display the Start menu)

Microsoft natural keyboard shortcuts
  • Windows Logo+BREAK (Display the System Properties dialog box)
  • Windows Logo+M (Minimize all of the windows)
  • Windows Logo+SHIFT+M (Restore the minimized windows)
  • Windows Logo+E (Open My Computer)
  • Windows Logo+F (Search for a file or a folder)
  • Windows Logo+ L (Lock the keyboard)

09 September, 2009

Penggunaan "predictive texting" di Handphone SMS secara berlebihan menjejaskan otak kanak-kanak 11-14 tahun

Satu kajian di buat oleh "Journal of Bioelectromagnetics" diketuai oleh Prof. Abramson membuktikan yang kanak - kanak berumur 11 hingga 14 yang menggunakan "predictive texting" di handphone secara berlebihan akan membuat mereka lebih cenderung ke arah pemikiran secara buta-tuli / bodoh atau erti kasarnya in English "fast-thinking idiots".


Dibawah adalah sebahagian dari text dari hasil kajian beliau yg telah saya alih bahasa ke Bahasa Melayu:

"Kanak - kanak yang menggunakan telefon bimbit mereka secara berlebihan adalah lebih cepat dalam beberapa kaji selidik, namun kanak - kanak ini kurang tepat. Kami menduga bahawa menggunakan telefon secara berlebihan - terutamanya "predictive texting" di SMS - melatih mereka menjadi cepat tapi tidak tepat. Otak meraka masih berkembang, jadi jika terjadi sesuatu kesan, maka kesan ini akan berpotensi untuk mempengaruhi mereka di masa kedepan. Penggunaan telefon bimbit mengubah cara kanak-kanak belajar dan berfikir; dan mempengaruhi mereka untuk menjadi lebih impulsif (melakukan sesuatu tanpa berfikir terlebih dahulu) dalam tingkah-laku mereka."


Abramson-profesor di Monash University, Melbourne, Australia -mengatakan bahawa mereka tidak menjadi bodoh kerana radiasi telefon menjejaskan otak mereka, tetapi kerana "predictive texting" melatih otak mereka berfikir mereka boleh mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mudah.


from : Bahruddin Atwam, Petro Rabigh Saudi Arabia.

Maulud Pemuda Menara Malaysia