Pelatihan Komputer & Internet

Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

02 Desember, 2009

Islam Adalah Darah Dagingmu

Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya Islam adalah darah dagingmu, tangisilah dirimu dan sayangilah ia, jika kamu tidak menyayangi, maka tidak akan disayang. Hendaknya yang menjadi temanmu adalah orang yang mengajakmu berzuhud terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat. Perbanyaklah mengingat mati, perbanyaklah memohon ampun atas dosa-dosamu yang telah lalu dan mohonlah keselamatan kepada Allah dalam menjalani sisa-sisa umurmu.”

Di nukil dari Imam yang zuhud, ahli ibadah dan wara' bernama Sufyan Ats-Tsauri dari wasiat-wasiat, nasihat dan kalimat yang penuh hikmah yang bertebaran dalam kitab-kitab Thabaqat, biografi para ulama dan kitab-kitab berharga lainnya. Seluruh apa yang beliau nasihatkan begitu berharga, memancar di dalamnya Ruh yang khusyu' dan bercahaya.

Di antara nasihat yang paling berharga dari Sufyan Ats-Tsauri adalah wasiat yang beliau tulis untuk sebagian saudara beliau, yang meminta nasihat dan wejangan dari beliau. Diantaranya tertulis:

Janganlah engkau mengambil ilmu agama melainkan kepada orang yang sangat cinta kepada agamanya, karena perumpamaan orang yang tidak mencintai agamanya bagaikan dokter yang sakit dan tidak mampu mengobati penyakit pada dirinya. Bagaimana mungkin ia akan mengobati orang lain dan menasihatinya?

Imam Ats-Tsaury telah menjelaskan bahwasanya mempelajari Islam pada selain ahli wara' dan taqwa merupakan pengkhianatan terhadap diri sendiri, mampukah seorang dokter yang tak mampu mengobati dirinya sendiri dia akan dapat mengobati orang lain?

Betapa tepatnya perumpamaan Imam ini tentang agama sebagaimana darah dan daging, karena agama yang benar adalah Ruh manusia dan intinya, maka apabila agama ini lenyap seakan-akan bukan dikatakan sebagai manusia lagi. Sebagaimana jika manusia telah hilang darah dan dagingnya, dapatkah ia disebut sebagai manusia?

Sesungguhnya orang-orang yang menyeru kaum muslimin hari ini untuk mengikuti ajaran sekulerisme, mereka telah mendudukkan sampah ke derajat agama, menipu kaum muslimin bahwa mereka mampu hidup tanpa Islam dan mengambil sesuatu yang bertentangan dengan Islam.

Akan tetapi nasihat Sufyan Ats-Tsaury sebagai sanggahan terhadap pemikiran atheis yang meremehkan pengaruh Islam dalam kehidupan manusia. Apakah yang dilakukan oleh seoarang muslim bila telah meyakini bahwa agamanya adalah dasar yang menjadikan dia ada dan inti dari hidupnya? (tentulah ia akan berkata):

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama meyerahkan diri (kepada Allah) (Al-An'am: 162-163)

Sesungguhnya kemuliaan umat Islam akan terwujud manakala ada orang-orang yang yakin bahwa Islam adalah darah dan dagingnya bahkan manakah yang lebih berharga antara darah dan daging dengan ruh dan jiwa?


Sekali-kali umat Islam ini tidak akan kembali berjaya, tegak, berkuasa dengan lurus bagi manusia melainkan jika mereka kembali mengambil pelajaran sebagaimana yang dikatakan oleh Imam ini, menguatkan ikatannya terhadap Islam dan meletakkannya pada tempat yang semestinya dalam rangka membina pribadi dan mengatur masyarakat.

Sungguh sangat mengherankan orang-orang yang terkena fitnah dan provokasi dari orang yang merendahkan martabat Islam, melecehkan orang-orang yang berpegang teguh dengannya. Mereka tak lebih dari para pembeo orang-orang atheis yang tidak pernah merasakan lezatnya iman dan ketenangan dengan hidayah Islam. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang sesat yang ingin menyebarkan kesesatan tersebut kepada setiap hati.

(dari berbagai sumber)

By Nassir Barack Sabe

Derita di Tanah Suci

Pepatah mengatakan “niat hati memeluk gunung, tapi tangan tak sampai” begitulah mungkin yang cocok untuk menggambarkan orang-orang yang ingin menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Bagaiman tidak, dari jauh-jauh hari bahkan sudah bertahun-tahun lamanya ingin menunaikan ibadah haji justru batal. Mengapa demikian, ada beberapa factor yang menyebabkan calon jamaah haji mengurungkan niatnya pergi ke tanah suci.

Alih-alih ada sebagian orang yang beruntung dapat menunaikan ibadah haji, hal ini tidak terlepas dari kesanggupan calon jamaah haji tersendiri (mampu sesuai ketentuan rukun islam yang kelima). Beruntunglah bagi mereka yang mampu untuk pergi menunaikan ibadah haji. Sehingga lengkaplah rukun islam bagi seorang muslim untuk menyatakan kepada dunia bahwa mereka sepenuhnya menjadi muslim sejati.

Ada satu permaslahan tatkala calon jamaah haji sampai di tanah suci mekkah yang mungkin oleh sebagian orang tidak mampu untuk menyesuaikan diri terhadap situasi dan lingkungan disana. Cuaca salah satunya merupakan salah satu factor penting yang mungkin tidak bisa dihindari oleh sebagian besar orang.

Namun, disatu sisi ada yang lebih penting untuk diperhatikan oleh jamaah haji tatkala sedang menunaikan ibadah haji. Hal ini adalah kondisi fisik dari jamaah haji itu sendiri. Fisik merupakan factor utama yang harus diperhatikan selain factor lingkungan dan kondisi cuaca disana. Factor inilah yang sering diabaikan oleh sebagian besar calon jamaah haji, sehingga tatkala sampai disana “niat hati menunaikan ibadah haji, justru dapat sengsara” ujung-ujungnya meninggal dunia. Wallahu a’lam.

Anehnya justru sebagian dari mereka sengaja naik haji pada usia tua/ lanjut. Dengan dalih bahwa menginginkan meninggal dunia disana. Padahal bila dilihat lebih lanjut itu hanya akan menjadi beban orang lain bahkan pemerintah sekalipun. Yang jadi pertanyaan bagi saya adalah “mengapa hal ini bisa terjadi?” apa jangan-jangan ini merupakan suatu kesempatan bagi pemerintah, khususnya departemen agama?.

Seharusnya pemerintah harus lebih jeli menyikapi banyaknya jamaah haji asal Indonesia yang meninggal dunia disana. Hingga mencapai jumlah puluhan bahkan ratusan nyawa yang melayang sia-sia. Paling tidak menurut hemat penulis calon jmaah haji harus dibatasi batas umurnya dengan batas maksimum 60 tahun.

Kebanyakan jamaah haji asal Indonesia yang meninggal disana rata-rata berusia lanjut. Hal ini yang menjadi penyebab meninggalnya jamaah haji asal Indonesia. Bila dilihat secara medis, usia 60 tahun keatas rentan dengan banyaknya penyakit yang menghinggapi manusia karena tingkat kekebalan tubuh atau daya imun sesorang sudah menurun.

Ada yang tak kalah menariknya untuk dibahas terkait masalah urusan jamaah haji tentunya di departemen agama, yaitu berdasarkan data-data dan pemberitaan yang penulis ketahui bahwa departemen terkorup adalah departemen agama. Sungguh sangat ironis bila kita kaji dan renungi. Yang jadi pertanyan adalah “koq bisa, yang notabennya departemen agama adalah orang-orang yang paham agama justru paling terkorup?” innalillahi wainna ilaihiroji’un.

Berdasarkan informasi kasus diatas bisa kita kaitkan dengan permasalahan jamaah haji dari dahulu hingga sekarang, yang seakan-akan tidak pernah lepas dengan yang namanya penderitaan, dari kelaparan, pemondokan, terlantar, dan lain-lain.

Ini menjadi renungan bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih memperhatikan keselamatan daripada mementingkan financial, harta dan keuntungan semata. Karena kenikmatan dunia tidak kekal adanya, yang kekal hanyalah Allah Azza Wajallah…

Penulis menyadari bahwa tulisa ini jauh dari sempurna, kritik dan saran sangat penulis harapkan. Apabila dari tulisan ini ada nilai baiknya/manfaatnya tentunya datangnya dari Allah Ta’ala dan apabila ada salah tentunya datangnya dari penulis. Penulis mengucapkan Jazakumullah Khairan Katsira.

By Nassir Barack Sabe

28 April, 2009

Yang Lalu Biarlah Berlalu

Setiap waktu yang telah lewat dari anda sejak anda lahir ke dunia hingga satu detik yang lalu dari hidup anda adalah masa lalu anda, dan setiap orang mempunyai masa lalu dengan segala suka dan dukanya, ada kesuksesan-kesuksesan yang diraih, dan mungkin juga ada kegagalan-kegalan yang diderita, ada pengalaman-pengalaman indah yang dialami, dan mungkin ada pengalaman-pengalaman pahit yang tidak menyenangkan.

Itu semua adalah masa lalu, dan semua yang telah kita lalui seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berarti, kalau sukses di masa lalu, maka harus berusaha mengulangi kesuksesan-kesuksesan lain di masa mendatang dengan memperhatikan faktor-faktor kesuksesan tersebut, dan kalau sebaliknya, maka harus berusaha menghindari dan meninggalkan faktor-faktor kegagalan sambil berusaha mencari jalan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, agar kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang lagi, nabi mengatakan: seorang mukmin tidak terperosok ke dalam jurang dua kali.

Inilah sikap yang baik terhadap masa lalu, tidak lebih dari itu, artinya jangan sampai anda terperangkap kepada kenangan masa lalu dan tenggelam dalam bayang-bayang masa lalu, baik itu suka maupun duka, karena hal ini akan menghalangi gerak langkah anda untuk meraih sukses di masa mendatang.

Terkadang ada orang yang setiap saat terkenang dan terkesan dengan masa lalu yang indah, setiap saat ia mengingat dan membayagkan sa’at-saat indah di masa lalu, mungkin juga selalu membangga-banggakan dan menyebut-nyebut kesuksesan-kesuksesan di masa lalu, dulu saya begini, dan dulu saya begitu, sehingga ia tidak sadar telah banyak membuang waktu untuk berbuat untuk masa mendatang, atau malah tidak berbuat sama sekali, seakan-akan kesuksesan masa lalu sudah cukup baginya dan tidak perlu berbuat apa-apa lagi, yang akhirnya ia akan menemui kegagalan.

Sebaliknya ada orang yang selalu tenggelam dalam ingatan masa lalu yang kelam dan menyedihkan, mungkin juga disertai dengan penyesalan-penyesalan. Setiap saat merenung dan menyesali masa lalu yang tidak menyenangkan, mungkin juga menyakitkan dan menakutkan, lalu ia berandai-andai, dan berusaha memutar kaset kehidupannya ke belakang, ia mengatakan: kalaulah seandainya saya begini, kalau saja dulu saya begitu, kalau saja dulu saya melakukan ini, kalau-kalau, dan kalau-kalau, padahal jarum jam perjalanan hidup kita tidak mungkin bisa diputar ke belakang.

Satu menit yang lalu tidak mungkin bisa diulangi lagi, masa yang telah kita lalui tidak akan bisa mundur lagi. Sehingga tanpa dia sadari, ia telah banyak membuang waktu untuk mengint-ingat dan berandai-andai, akibatnya ia tidak berbuat sesuatu untuk memperbaiki kesalahan, mengakhiri kegagalan, dan mengukir masa depan.

Atau terkadang kabut kelabu selalu menyelimutinya, setiap kali akan melakukan sesuatu, ia khawatir kalau kejadian masa lalu terulang lagi, setiap kali akan melangkah, takut kalau kepedihan di masa lalu terjadi lagi, akibatnya ia tidak berani berbuat sesuatu untuk mengukir masa depan yang gemilang dan menyenangkan. Kalau ini terjadi maka berarti ia telah memvonis dirinya bahwa sejarahnya telah selesai, jalan hidupnya telah berakhir, tidak ada lagi harapan di masa mendatang, hidupnya sudah kelam, dan ia menjadi putus asa. Kalau perasaan ini terus berlanjut, maka ini sangat bahaya sekali, karena bisa-bisa mengakibatkan seseorang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Anda harus punya harapan, yakinlah bahwa apa pun yang terjadi di masa lalu, bukanlah akhir segala-segalanya, hidup anda masih panjang, perjalanan anda masih jauh, dan perjuangan anda masih harus diteruskan.

Jangan capat merasa puas dengan kesuksesan-kesuksesan, dan jangan berputus asa bila mengalami kegagalan, teruskan kesuksesan-kesuksesan anda yang lalu untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan di masa mendatang, dan kuburlah masa lalu yang kelam dalam-dalam, anggap saja hal itu tidak pernah tejadi, pandanglah jauh ke depan, banyaklah berbuat untuk masa depan, dan yang lalu biarlah berlalu.

Oleh Munir Fuadi, MA from Universitas Al-Imam Saudi Arabia

20 April, 2009

Syukuri yang ada, niscaya anda bahagia.

Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, Allah memberi kita akal untuk berpikir, tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar, dan semua anggota badan kita yang lain merupakan karunia Allah yang tak terhingga nilainya. Allah juga menciptakan alam semesta dengan begitu indahnya, semua yang diperlukan oleh manusia untuk kebutuhan hidup di dunia ini ada, air, udara, tanah, tumbuhan, angin, matahari, dan semua yang ada dalam jagat raya ini diciptakan untuk manusia.

Oleh karena itu seharusnya manusia bahagia hidup di dunia, seharusnya senang, gembira, aman, damai dan sejahtera. Namun ternyata tidak sedikit yang merasa susah dan sengsara, dunia yang luas ini terasa sempit, udara yang segar terasa pengap, dan alam yang indah terlihat kusam. Apa sebabnya? Apa yang terjadi pada manusia? Bukankah mereka bisa menikmati indahnya alam semesta, bukankah mereka bisa memanfaatkan ciptaan Allah yang maha agung? Apa yang membuat mereka bersedih?
Ada orang kaya, hartanya berlimpah dan sangat bahagia, namun ada juga orang kaya yang hidupnya sengsara, wajahnya muram, pikirannya kalut, dan hidupnya selalu resah, malam tak dapat tidur, makan pun tak enak.

Ada pula orang yang pas-pasan, tapi ia bahagia, setiap kali menerima gaji yang tidak seberapa, ia senyum gembira, dan tertawa lepas. Namun ada pula orang yang penghasilannya sama, tapi hidupnya selalu susah, gajinya yang ia terima tidak membuatnya gembira, bahkan menggerutu karena ia merasa gaji segitu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak ada batasnya.

Ada pula orang yang hidupnya sangat kekurangan, jangankan makan yang cukup, atau pakaian yang bagus, rumah pun tak punya, hidup dari mengais rezeki di tong sampah dengan mengumpulkan karton bekas, lalu ia menjual hasil kerjanya seharian dan cukup untuk membeli nasi bungkus, lalu di malam harinya ia duduk di emperan toko sambil minum kopi melepas lelah dengan penuh tawa dan keceriaan.

Kalau begitu apakah yang membuat orang bahagia atau menjadikan ia sengsara? Mungkin harta bisa membuat orang senang, tapi tidak menjamin dia bisa bahagia.
Seseorang bisa bahagia dalam kesahajaan, tapi ada juga orang yang susah dan sengsara dalam gelimang harta, kalau demikian berarti anda bisa bahagia dan bisa susah apapun kondisi anda. Anda bisa bahagia baik anda miskin atau kaya, dan anda juga bisa susah baik anda miskin maupun kaya. Terus di mana letak kebahagiaan itu, atau bagaimana anda bisa bahagia?

Anda bisa tidur nyenyak walau hanya beralas tikar kusam, dan mugkin juga anda tidak bisa memejamkan mata walau tidur di atas kasur yang empuk. Singkong goreng dan kopi hangat terasa sangat nikmat jika anda mau menikmatinya, tapi jika anda berpikir pada burger atau pizza, maka singkong goreng tersebut akan terasa sesak di tenggorokan.

Jadi, anda bisa bahagia jika anda mau, dan bisa sengsara jika anda mau, kalau begitu kebahagiaan dan kesengsaraan hanya ada dalam pikiran dan perasaan.
Dalam sebuah hadits nabi bersabda: jika anda bangun pagi dan badan anda sehat, aman di tempat tinggal, dan anda punya untuk di makan hari ini, maka anda telah memiliki dunia seisinya.

Ya, anda bisa bahagia jika anda mau, anda punya badan yang sehat, akal yang cerdas, punya rumah untuk berteduh, punya makanan untuk mengganjal perut, saudara yang penuh perhatian, teman-teman yang baik, dan lingkungan yang aman, maka anda telah memiliki segalanya. Kenapa mesti susah?

Kalau tidak percaya, cobalah lihat! Berapa banyak orang yang menderita penyakit atau cacat, berapa banyak orang yang tidak punya tempat tinggal, dan hanya tinggal di kamp pengungsian, berapa banyak orang yang negaranya tidak pernah sepi dari peperangan?
Anda hidup hanya sekali, maka nikmatilah hidup anda yang hanya sekali ini, senyumlah menghadapi dunia ini, hiruplah udara segar, nikmati yang ada, jangan memikirkan yang tidak ada, dan syukuri yang ada, niscaya anda bahagia.

Oleh H. Munir Fuadi, MA
Putra ke-dua K.H. Rildwan, beliau sedang menyelesaikan disertasi-nya untuk mendapat gelar doktor di Universitas Al Imam Saudi Arabia.

Maulud Pemuda Menara Malaysia